Hari ini aku nge-pit (bahasa jawa dari ’sepeda’. Sepertinya kata serapan dari bahasa Belanda: ‘fiets’) di kantor.
Padahal udah berapa tahun aku gak pernah pakai sepeda lagi. “Jatuh..nggak..jatuh..ngak….??” kataku dalam hati. Syukurlah, ternyata sisa2 kemampuan bersepedaku masih melekat.
Sebenarnya sih, awalnya pakai sepeda karena terpaksa: motor operasional sudah habis dipinjam, tak bersisa satupun. Sedangkan aku harus berkeliling area tempat kerjaku sambil memeriksa pekerjaan rekan2 yang lain.
Lumayan juga bersepeda siang2 (sekitar jam 11 broer…
). Banyak yang ngeliatin sambil senyum2. Yah, beginilah kalau orang ramah: banyak yang ajak senyum..
Bike memories
Sebenarnya dunia persepedaan tidak jauh dengan kehidupanku.
Saya sudah mencari2 sepeda yang pas dengan minat & kemampuan. Dulu kayaknya yang namanya sepeda harganya ndak mahal, ternyata sekarang dengan spesifikasi minimum: velg alumunium, gigi depan-belakang Shimano, belum pakai suspensi, harganya at least Rp 1,4jt.
Aku pernah punya sepeda kenangan:
Sewaktu masih kuliah di Poltek ITB di Ciwaruga, Bandung, aku tinggal di asrama. Nah di asrama itu aku lihat ada sepeda balap keiket terus selama hampir 2 semester di bawah tangga asrama.
Iseng2 aku tanya ke sang pemilik.
Aku tanya: “itu sepeda masih dipake nggak? Kl dah gak dipake, sini aku aja yang urusin..”.
Eh, ternyata tawaran isengku dijawab serius: “boleh deh, gpp. Bayarin aja”
“Berapa?” Tanyaku, mulai bersemangat…
“Berapa aja deh..”
“Wah, berapa ya..?”, terus aku iseng nyebut suatu harga yang mustahil: “sepuluh ribu perak yah…?”
“ya udah, ambil tuh…!” katanya
Aku ngucek2 mata & telinga karena gak percaya.. “Beneran nih, aku bayarin cuma sepuluh ribu aja?”
“Iya beneran”, katanya.
Trus, tanpa pikir panjang aku bayar Rp 10 ribu untuk sebuah sepeda balap.
Kondisinya memang tinggal 60%, pelek karat, gigi depan-belakang karat, cat hampir mengelupas.
Tapi aku pikir: “yah, ndak papa lah, wong murah ini…”
Terus selama hampir 2 minggu lamanya aku terlibat dalam suatu proyek: “sepeda balap rebuild project”. Waktu aku pulang ke Bogor, aku beli perseneling baru (gigi & tuasnya) merk Shimano seharga Rp 60.000,- , cat semprot, minyak gemuk, dll.
O ya, tahun 1991 aku kuliah di Bandung, tapi pulang ke Bogor tiap 2-3 minggu sekali.
Nah, waktu balik ke asrama, hari Sabtu-Minggu berikutnya aku sibuk dengan sepedaku.
Aku lepas semua bagiannya, kemudian aku bersihkan & aku cat bodynya dengan warna hitam pekat. Dua hari yang melelahkan…
Tapi hasilnya: really worthed!
Saat aku rangkai kembali, sepeda balap itu sudah kembali kinclong. Berikutnya: “Lapangan Gasibu, I’m coming…!”.
Selanjutnya yang terjadi: setiap Sabtu/Minggu jika sedang tidak mudik ke Bogor, aku berkeliling kota Bandung. Kadang sendiri, kadang dengan para biker lain dari asrama.
Wow… ternyata memang sehat & menyenangkan bersepeda itu. Sehat, murah, tanpa polusi.
Kini sepedaku sudah aku lego. Berikutnya aku mau cari sepeda lagi, namun sampai sekarang aku masih cari-cari sepeda yang cocok untukku.
Oh… kapan ada subsidi negara untuk sepeda..???

