Saya termasuk orang yang sulit untuk percaya bahwa Industri Jasa Transportasi Kereta Api tidak memberikan keuntungan yang banyak bagi pengelolanya.
Sumber pundi-pundi uang bagi PT KAI yang bisa saya bayangkan:
- Optimalisasi penjualan tiket.
Para penumpang bisa ‘dipaksa’ membeli tiket antara lain dengan cara:- memperbanyak loket penjualan tiket, hal ini untuk mengatasi masalah “antrian beli tiketnya panjang, padahal keretanya sudah mau berangkat lagi. Nanti kalau saya beli tiket dulu takut ketinggalan kereta…”
- meningkatkan pengawasan di pintu masuk maupun pintu keluar, serta mengadakan pemeriksaan mendadak di peron dan diatas kereta
- mengoptimalkan penjualan TIKET LANGGANAN, karena hal ini berarti pemasukan kas bagi PT KAI di awal bulan. Prepaid ticket berarti uang diterima lebih dulu, baru digunakan dalam periode tertentu (misal: bulanan). Hal ini juga dapat memberikan efek berkurangnya antrian penjualan tiket, namun pendapatan PT KAI tetap aman.
- Iklan/sponsor
PT KAI memiliki penggemar tersendiri yang jumlahnya ribuan. Hal ini tentu menjadikannya sebagai daya tarik bagi pihak tertentu yang hendak berpromosi. - Pengurangan ‘kebocoran’, terutama di bagian penjualan tiket
Sudah menjadi rahasia umum bahwa ‘bayar diatas kereta’ lebih murah daripada harus membeli tiket, kecuali kalau nasib lagi apes, ketemu dengan pemeriksaan tiekt yang mengharuskan kita membeli tiket suplisi (tiket denda). - Optimalisasi jadwal kereta
Keberangkatan kereta pada jam2 sibuk bisa ditingkatkan untuk menjaring penumpang sebanyak-banyaknya, sedangkan pada jam2 sepi jadwal keberangkatan bisa dikurangi. Hal ini sebenarnya sudah dilakukan oleh PT KAI, namun terkesan kurang efektif karena masih banyak kereta yang keberangkatannya ‘molor’, sehingga mengganggu keberangkatan kereta2 lain yang di belakangnya.
Semua hal diatas sudah tentu akan berimbas amat positif bagi pendapatan PT KAI karena jika kita melihat setiap hari, terutama jam berangkat & pulang kantor, penumpang kereta begitu banyak. Bahkan luar biasa banyak.
The facts:
Pada jam berangkat kantor dari Stasiun Sudimara, saya perhatikan faktanya sbb:
- satu gerbong yang seharusnya diisi sekitar 150 orang, bisa diisi 250-350 orang (bayangkan: di dalam gerbong penuh sesak, bahkan berdiripun sudah sangat sulit, sehingga sebagian orang memilih tempat yang sesungguhnya tidak layak dan sangat berbahaya: duduk di atap kereta).
- satu rangkaian kereta listrik bisa terdiri dari 8 gerbong
- satu rangkaian kereta dengan lokomotif bisa terdiri dari 11 gerbong.
- Jadi potensi satu rangkaian kereta dalam satu kali keberangkatan bisa mengangkut (250 * 8 ) = 2000 orang sampai dengan (350 * 11) = 3850 orang.
- Jika satu orang pukul rata membayar Rp. 3000 (perhitungan rata-rata kasar dari tarif tiket ekonomi Rp 1500 dan kereta ekspress rata2 Rp 10000), maka dalam satu kali keberangkatan bisa memperoleh penjualan tiket sebesar (2000 orang * Rp 3000) = Rp 6.000.000,- sampai (3850 * 3000) = Rp 11.550.000,-.
- Perhitungan tersebut baru mengandaikan rata2 harga tiket Rp 3.000,- dan maksimal orang terangkut dalam satu gerbong adalah 350 orang.
Berapa jika rata2 tiket dihitung Rp 4.000,- dan penumpang > 350 orang? - Berapa trip keberangkatan kereta dalam satu hari?
Melihat potensi demikian besarnya, sulit membayangkan PT KAI bukan salah satu penyumbang uang terbesar ke negara.
- People at KRL Jabotabek. What a brave people!
- Pantograph of Serpong Shinkansen
- People await for Serpong Shinkansen at Sudimara station
- Passenger rites to get in the Shinkansen carriage at Sudimara station
- Bandan Shinkansen Station






sama mas ..semua orang pasti mikir begitu…pasti untung. problem utamanya adalah karena PTKA monopoly. jika gerbang privateer dibuka di bisnis kereta..pasti semua bekerja untuk mencapai untung baik PT KA dan kompetitornya karena mindsetnya pasti langsung berubah, bekerja lebih giat, muter otak. Thats the beauty of perfect competition. Sekarang ini sih PTKA bekerja selalu memberikan solusi pas mudik aja dan gimana statistik kecelakaan berkurang. karena hal ini yg selalu disorot media dan stakeholders lainnya
keren…. keren….. tapi lain kali pake TGV aza yeh…..